CILEGON,masviral.co.id – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, kebutuhan uang pecahan baru di Kota Cilegon melonjak tajam.
Namun di tengah tingginya permintaan tersebut, muncul praktik penukaran uang tidak resmi yang justru memberatkan masyarakat. Warga kini dihadapkan pada pilihan sulit antre terbatas di bank atau membayar mahal di “pasar alternatif”.
Pantauan di lapangan pada Rabu (18/03/2026) menunjukkan aktivitas penukaran uang baru berlangsung ramai di dua titik strategis, yakni di kawasan Taman Bonakarta dan di depan Bank BRI KC Cilegon. Di lokasi tersebut, sejumlah oknum secara terang-terangan menawarkan jasa penukaran uang dengan berbagai pecahan yang dibutuhkan masyarakat untuk tradisi Lebaran.
Namun, di balik kemudahan itu, terselip biaya tinggi yang memicu keluhan.kepala perwakilan Wilayah Banten Tim media Masviral yang melakukan penelusuran langsung mendapati adanya pungutan hingga 20 persen dari nominal uang yang ditukarkan.
“Kalau tukar uang kena berapa, mas?” tanya tim kepada salah satu petugas di lokasi.
Tanpa ragu, petugas yang enggan disebutkan namanya menjawab, “Di sini adminnya 20 persen, Pak. Kalau Rp1 juta, kena Rp200 ribu.”
Realita di Lapangan Fenomena ini menegaskan adanya praktik penukaran uang nonresmi yang semakin menjamur setiap menjelang Lebaran.
Tingginya tarif yang dikenakan membuat masyarakat kecil semakin terbebani, terutama bagi mereka yang ingin berbagi kepada sanak saudara dengan uang pecahan baru.
Akar Permasalahan Kondisi ini diduga dipicu oleh terbatasnya akses masyarakat terhadap layanan penukaran uang resmi. Kuota penukaran di bank yang terbatas, waktu pelayanan yang singkat, hingga antrean panjang menjadi kendala utama.
Celah inilah yang dimanfaatkan oleh oknum untuk meraup keuntungan besar dalam waktu singkat.
Dampak Sosial Praktik ini bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga menimbulkan ketimpangan akses. Masyarakat yang tidak memiliki waktu atau kesempatan untuk mengakses layanan resmi akhirnya “dipaksa” menggunakan jasa penukaran dengan biaya tinggi. Akibatnya, tradisi berbagi di hari raya justru menjadi beban tambahan.
Sorotan untuk Otoritas
Situasi ini memunculkan pertanyaan serius terhadap peran pengawasan dan distribusi uang baru oleh otoritas terkait, termasuk Bank Indonesia dan perbankan nasional. Masyarakat berharap ada langkah konkret untuk memperluas layanan penukaran resmi, baik melalui penambahan titik layanan maupun sistem distribusi yang lebih merata.

Selain itu, penertiban terhadap praktik penukaran ilegal juga dinilai penting agar tidak semakin merugikan masyarakat.
Warga Cilegon berharap pemerintah dan pihak perbankan segera turun tangan. Keter sediaan uang baru yang mudah diakses tanpa biaya tambahan menjadi kebutuhan mendesak setiap menjelang Lebaran.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin praktik “biaya siluman” akan semakin mengakar dan menjadi tradisi tahunan yang merugikan masyarakat luas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak perbankan terkait maraknya praktik penukaran uang dengan tarif tinggi di Kota Cilegon.
Bagus

























